Sungai Cerekang: Sarabba Tempo Doloe dan Kisah Kasih

Cuaca di Makassar sedang tidak menentu. Pernah dalam sehari 4x hujan dan 4x panas terik. Ganti-gantian. Di saat bersamaan Makassar masih dalam masa pandemi Covid-19, imunitas tubuh harus tetap terjaga.

Makan teratur, olahraga, dan istirahat yang cukup menjadi rutinitas yang mesti diperhatikan. Bisa juga melakukan improvisasi dengan rutin mengkonsumsi olahan rempah-rempah. Misalnya jahe.

Untuk olahan seperti jahe, di Makassar ada yang namanya sarabba. Minuman yang terdiri dari campuran jahe, merica, santan, dan gula aren. Kadang juga dicampur telur ayam kampung dan susu kental manis.

Ada satu lokasi dimana setiap malam selalu ramai oleh orang-orang yang minum sarabba: Jalan Sungai Cerekang. Barangkali yang pertama muncul di benak warga Makassar ketika mendengar kata 'sungai cerekang' adalah jalan beraspal ketimbang sebuah sungai. Di sepanjang jalan ini lah berjejer warung-warung sarabba. Kita hanya tinggal memilih salah satu warung untuk menikmatinya.

***

Hj. Nurleli, penjual sekaligus pemilik warung sarabba di jalan Sungai Cerekang. Warungnya terletak pas depan Budi Bakti, tempat dokter-dokter spesialis praktek. Tidak jauh setelah masuk lewat jalan Gunung Bawakaraeng. Warungnya salah satu yang ramai. Tidak jarang pelanggannya ada yang sampai harus keliling-keliling di sekitar situ hanya untuk menunggu ada meja yang kosong.

Nama warung sarabba Hj. Nurleli ini adalah Sarabba Tempo Doloe 39, berdiri sejak 1989.

Menurutnya orang-orang yang berkunjung disini seringkali mengira kalau warungnya yang paling pertama menjual di jalan Sungai Cerekang. Padahal warungnya adalah warung sarabba yang kedua.

Dulu memang di tempatnya pernah ada warung sarabba. Rumahnya dikontrak selama tiga tahun, namun setelah itu kontraknya tidak dilanjut. Warung sarabba yang sebelumnya itu pindah tempat tapi masih di dalam jalan Sungai Cerekang. Menurut Hj. Nurleli warung sarabba inilah yang pertama kali menjual sarabba di jalan Sungai Cerekang, namanya Sarabba Kosong Satu.

Setelah rumahnya sudah tidak lagi dikontrak, Hj. Nurleli membuka warung kecil-kecilan. Banyak kampas-kampas rokok datang untuk istirahat dan makan makan siang.

Tetapi warung kecil-kecilannya itu tidak berlangsung lama. Saat itu pacarnya (yang sekarang menjadi suaminya) kurang senang dengan banyaknya laki-laki yang singgah di warungnya.

"langsung ganti usaha mka nak", tutur Hj. Nurleli sambil tertawa.

Hj. Nurleli yang ketika itu berumur 22 tahun kemudian memutuskan untuk berjualan sarabba. Di hari pertamanya menjual sarabba, ia tidak menyangka kalau di hari itu juga sarabbanya langsung laris. Padahal tidak ada alasan yang khusus dan rencana yang matang ketika memutuskan kenapa harus sarabba yang dijual. Di pikirannya ketika itu yang penting keluarganya bisa bertahan hidup, setelah kakak pertamanya yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal.

"Alhamdulillah dari hasil sarabba bisa mka bangun rumah ku ini dari yang awalnya masih gubuk, bisa tommka kasi hidup anak-anak ku.. Alhamdulillah"

Hari ini warung sarabbanya sudah memiliki 16 orang pekerja, termasuk dirinya sendiri. Tugas Hj. Nurleli adalah naik becak ke pasar membeli bahan-bahan utama sarabba. Mulai dari pertama buka sampai sekarang semua bahan-bahan utama sarabbanya, di'import' langsung dari Pasar Terong. Ia memilih naik becak karena sudah memilki dua tukang becak langganan yang sudah lama menemaninya.

Untuk menjaga agar rasanya tetap konsisten Hj. Nurleli tidak pernah mengganti bahan-bahan utamanya. Meskipun harga bahan-bahan utamanya naik, ia tidak menaikkan harga jual sarabbanya.




Di masa pandemi seperti sekarang pemasukan warung sarabba Hj. Nurleli menurun drastis. Selama warung sarabba ini berdiri, baru kali ini ia merasakan jatuh. Ia berharap agar pandemi ini segera berakhir dan kembali normal seperti biasanya.

"Kalau dibilang cerita jatuh bangun berjualan, baru pi ini di pandemi saya rasa jatuh.."

Pada saat yang bersamaan pemerintah Kota Makassar juga merencanakan kebijakan untuk seluruh masyarakatnya agar mengkonsumsi sarabba. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan naiknya angka positif Covid-19.

Di warung sarabba ini hampir tidak ditemukan desain interior yang instagramable. Kita juga tidak menemukan pajangan foto ownernya dengan orang-orang terkenal seperti artis ataupun politisi. Dan yang penting untuk diketahui kalau warung sarabba ini tidak memiliki cabang.

Meskipun sudah seringkali diajak kerjasama oleh beberapa pihak, Hj. Nurleli masih tidak ingin dulu. Ia bercerita kalau tidak ingin dipusingi dengan keharusan untuk membuka cabang. Tapi ia juga tidak menutup kemungkinan kalau hal itu mungkin bisa terjadi.

"tapi nanti lah diliat nak bagaimana kedepannya.."



Tukang Foto: Ardian Dandy

Comments

  1. Lucky Club Casino Site - Get Lucky Club Bonus
    Lucky Club Casino offers 100's of exciting games from Microgaming, Microgaming luckyclub and many more. Sign up today to get free welcome bonus! Rating: 5 · ‎Review by Lucky Club Casino

    ReplyDelete

Post a Comment

Esai Lainnya: