Sebuah Cerita tentang Makanan Ringan Kemasan, Es Krim, dan Gulali diantara Kepungan Korporasi

Bagi generasi 90an, tiada yang lebih patut dikenang daripada cerita kehidupan yang dipenuhi warna-warni film kartun, petualangan-petualangan kecil dan cita rasa manis jajanan-jajanan kala itu. Salah satu jajanan kala itu yang lumayan banyak digandrungi adalah gulali.


Gulali merupakan salah satu jajanan populer kala itu. Biasa juga dikenal dengan nama 'harum manis'. Gulali telah banyak mewarnai perjalanan manis para generasi tua kini (yang dulunya pernah muda), salah satunya pada masa-masa sekolah dasar dulu. Tak terkecuali saya sendiri.


Sepulang sekolah dulu, saya dan beberapa teman akan saling berebut perhatian penjual gulali. Tentunya agar lebih didahulukan memesan dari siswa lain. Bermodalkan uang jajan 500 perak, kami sudah dapat menikmati manisan yang penampakannya seperti gumpalan rambut nenek. Nyaris setiap hari di jam-jam pulang sekolah.


Sumber Ilustrasi: resepsedap-nusantara.blogspot.com


Baru-baru ini, karena ditenggarai rasa penasaran, saya mencoba mencari keberadaan penjual gulali di depan sekolah ku dulu. Beberapa menit sebelum waktu pulang, saya telah stand by di seberang jalan sekolah, saat itu suasana nampak begitu sepi. 


Betul saja. Setelah bel berbunyi, tak ada lagi terlihat penjual gulali di depan sekolah. Hanya beberapa gerobak bakso yang sepertinya kurang diminati para siswa.


Sepertinya jajanan anak-anak sedang mengalami transformasi besar-besaran.


Makanan Ringan Kemasan, Es Krim, Gulali


Banyaknya industri makanan ringan yang menjajakkan komoditasnya secara massif di kota-kota besar di Indonesia, secara perlahan nampaknya tengah merajai dunia makanan ringan—sekaligus juga mengobrak-abrik selera jajanan anak-anak Indonesia.


Bagi para korporasi seperti Mondelez, Indofood, Mayora, Garudafood dan beberapa lainnya, Indonesia merupakan pasar yang potensinya cukup besar untuk komoditas industri sejenis makanan ringan kemasan.


Selain makanan ringan kemasan, mungkin kita juga menjadi saksi dari bagaimana kemunculan industri es krim, seperti Walls dan Campina yang menggeser popularitas es dung-dung, sebuah es krim dengan tambahan roti tawar yang juga dapat dijumpai di depan sekolah dasar. Dengan uang 500 perak, kita sudah dapat menikmati es krim ditambah bonus roti. Menang banyak.


Begitu juga dengan es lilin plastik bening yang harus mengakui keunggulan es lilin modern andalan warganet, es kiko. Iklannya telah lama bergentayangan di pikiran para penonton setia televisi, hingga mendengar namanya pun langsung membuat suara iklannya terngiang-ngiang di kepala.


Kita juga mungkin menjadi saksi dari penghisapan yang dialami buruh es krim Aice yang ramai diperbincangkan. Siapa sangka, es krim Aice yang selama ini terkenal dengan rasa manis berbalut harga murahnya melakukan berbagai tindakan yang melanggar kemanusiaan para pekerjanya. Seperti lingkungan kerja yang tak sehat, sehingga menyebabkan pekerja yang terkena penyakit pernafasan; Ibu hamil yang keguguran lantaran dipaksa bekerja, sampai PHK massal para pekerja yang melakukan demonstrasi. Seperti kata pepatah, manisnya hanya di bibir saja. 


***


Bagaimana dengan keadaan gulali? Keberadaan korporasi makanan ringan kemasan dan es krim sedikit banyak berdampak pada usaha-usaha kecil. Tak terkecuali penjual gulali.


Gulali terkena imbas (salah satunya) dari berkurangnya pasar malam di daerah-daerah. Kehadiran pasar malam membawa berkah tersendiri bagi penjual gulali, yang memiliki keterkaitan dengan nuansa festival. Kini, pasar-pasar malam semakin jarang terlihat, nasib buruk pun menghantui para peramu jajanan gulali yang terpaksa harus mencari jalan lain.


Begitu pun dengan salah satu kerabat dekat gulali kapas, yakni gulali cetak. Berbeda dengan gulali kapas, gulali cetak tampil dengan modifikasi ala imajinasi para siswa. Biasanya penjual yang telah memiliki bakat dalam bidang seni rupa akan membentuk gulali sesuai permintaan konsumennya. Sekarang gulali cetak juga harus mengakui popularitas permen hisap sejenis Alpenliebe, Jagoan Neon, serta Milkita yang setara dua gelas susu.


Walau begitu, nasib gulali sebenarnya tak buruk-buruk amat. Di tangan ibu-ibu reformis yang kreatif nan ramah teknologi ini, gulali kian ramai bermunculan dengan beberapa modifiikasi di dinding-dinding Marketplace Facebook saya. Untuk menciptakan kesan menarik, gulali kapas biasanya dibentuk dengan tampilan menyerupai tokoh fiksi, diberi hiasan efek cahaya berwarna menyerupai lampu, sampai disandingkan dengan dengan minuman-minuman ringan. Inovasi usaha-usaha kecil ini menjadi alternatif bagi generasi old untuk menikmati romantisme gulali dengan tampilan kontemporer. Panjang Umur Gulali.



Penulis: Azwar Radhif (Penikmat Jajanan Lokal)

Comments

Esai Lainnya: