Foodemic: Pemusnahan Makanan, Revolusi Meja Makan, sampai 'Sama Rasa Sama Rata' á la Bugis
Virus Covid-19 muncul pertama kali di negara China. Sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia dan ditetapkan sebagai pandemi.[1]
Indonesia, yang sempat menganggap remeh di awal, akhirnya menjadi salah satu negara yang mengalaminya. Beberapa bulan terakhir ini kita harus menyaksikan korban berjatuhan yang diumumkan setiap hari. Membuat kita menjadi semakin terbiasa dengan kematian dan menggerus perasaan kedukaan. Sampai tulisan ini diketik masih banyak negara-negara yang masih berjuang untuk menaklukkan pandemi ini, termasuk Amerika Serikat yang saat ini menjadi negara dengan korban terbanyak.
Selama pandemi ini beberapa hal terjadi dalam kehidupan manusia. Salah satunya pada realitas manusia dengan makanannya.
Survei Tirto[2] mengklaim selama pandemi, 46% masyarakat Indonesia mengurangi konsumsi makanan di luar dan 49% menjadi lebih sering memasak di rumah. Waktu yang lebih banyak dihabiskan di dalam rumah juga membuat banyak orang bereksperimen dengan berbagai resep-resep. Pandemi membuat banyak konsumen memilih makanan dengan tidak mengorbankan kesehatan mereka.
Dampak pandemi pada realitas manusia dengan makanannya juga terjadi di Amerika Serikat dan China. Seperti yang diberitakan oleh David Yaffe-Bellany & Michael Corkery tentang pemusnahan kelebihan hasil panen di Amerika[3] dan Amy Qin tentang upaya mengubah kebiasaan makan yang sudah bertahan lama di China.[4]
![]() |
| Sumber Ilustrasi: foxnews.com |
***
Ketika pandemi korona menyebar di Amerika Serikat, banyak restoran, hotel, dan sekolah harus tutup. Sehingga banyak petani dan peternak menghadapi kerugian akibat banyaknya hasil panen yang tidak terdistribusikan. Terutama setelah pelanggan terbesarnya, yakni industri restoran, tutup.
Tetapi meskipun begitu, para petani dan peternak tetap kembali melakukan proses produksi, sembari berharap ekonomi akan membaik ketika panen. Saat ini mereka menghadapi situasi sulit untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Pemahaman atas kuantitas hasil panen yang dibutuhkan masyarakat Amerika Serikat ketika disiapkan di restoran dan ketika menyiapkan sendiri di rumah selama karantina menjadi sangat dibutuhkan. Seperti hasil panen buah, sayur, daging, dan juga susu.
David Yaffe-Bellany dan Michael Corkery mencatat bahwa sudah beberapa cara sudah dilakukan untuk menyelamatkan kelebihan hasil panen yang tidak terdistribusikan, namun jumlah yang tersisa juga tetap masih banyak.
Pilihan untuk mengekspor ke negara yang membutuhkan, selain tidak menguntungkan, bukan merupakan pilihan yang tepat saat ini. Karena banyak negara pelanggan yang sedang mengalami fluktuasi mata uang akibat pandemi. Di sisi lain pilihan untuk menyimpan terkendala pada keterbatasan penyimpanan. Kelebihan hasil panen juga telah disumbangkan berdasarkan permintaan ke badan amal dan dapur umum para tenaga kesehatan darurat. Melobi rantai makanan tertentu untuk meningkatkan jumlah kadar bahannya seperti kelebihan susu yang dikirim ke dalam rantai pizza untuk menambah jumlah kadar keju pada setiap irisannya, juga sudah dilakukan. Sampai dengan mengalihfungsikan kelebihan hasil panen menjadi makanan hewan peliharaan.
Pemusnahan kelebihan hasil panen yang tersisa dengan jumlah yang masih “mengejutkan” ini menjadi ironi tersendiri, yang mungkin di saat bersamaan banyak orang di belahan bumi lain begitu sangat membutuhkan.
Dari kasus yang terjadi di Amerika Serikat di atas kita dapat melihat dampak pandemi pada realitas manusia dan makanannya di tempat produksinya. Namun ketika beralih ke China kita akan melihat dampak pandemi pada realitas manusia dengan makanannya di tempat konsumsinya.
Dalam masyarakat China kebiasaan menggunakan sumpit sendiri—meskipun sudah menyentuh mulut—untuk mengambil makanan atau untuk memberikan ke piring makanan lain (keluarga atau kerabat terdekat), sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Kebiasaan ini dikenal dengan sebutan Sharing Food, suatu kebiasaan yang mengekspresikan rasa hormat dan kasih sayang layaknya pelukan dan cipika-cipiki.
Menggunakan sumpit yang berbeda akan membuat suasana diatas meja makan menjadi canggung. Adapun untuk aturan menggunakan sumpit yang berbeda hanya berlaku dalam jamuan acara resmi dan makan dengan orang asing.
Namun semenjak terjadi pandemi, pemerintah China meminta mengubah kebiasaan Sharing Food. Meski hal serupa juga sudah pernah di lakukan. Amy Qin mencatat kalau pada tahun 1984, Hu Yaobang yang saat itu menjabat sekretaris jenderal Partai Komunis China, menyarankan agar orang-orang sebangsanya meninggalkan kebiasaan Sharing Food dan beralih ke kebiasaan makan individual ala Barat, demi menghindari penyakit menular.
Saat ini sebagian besar masyarakat di China sudah menganggap Sharing Food sebagai kebudayaan otentik mereka. Hal tersebut membuat pemerintah mesti bekerja sama dengan sejarawan kuliner untuk membalikkan perspektif kebiasaan. Mereka mendapati fakta bahwa selama 3000 tahun kebiasaan makan di Dinasti Tang dilakukan dengan alat makanan yang diterapkan secara terpisah, yang dengan kata lain Dinasti Tang tidak menerapkan Sharing Food sebagai kebiasaan makan.
Dari yang diberitakan oleh Amy Qin, Sampai saat ini kampanye untuk mengubah kebiasaan Sharing Food terus dilakukan oleh pemerintah. Media-media pemberitaan disana menyebut kejadian ini sebagai Revolusi Meja Makan.
***
Kita bisa melihat realitas manusia dengan makanannya dalam empat momen; momen produksi (diadakan); momen distribusi (disebar); momen sirkulasi (dijual-dibeli); dan momen konsumsi (disiapkan, dihidangkan, dan dimakan). Setiap momen mempunyai persoalannya masing-masing. Apa yang terjadi Amerika Serikat dapat dilihat sebagai persoalan di momen distribusi, dan apa yang terjadi di China dapat dilihat sebagai persoalan di momen konsumsi. Meskipun momen dan persoalannya berbeda, tapi dipicu oleh sebab yang sama: pandemi.
Kondisi pandemi ini tidak hanya menjadikan kesehatan sebagai persoalan, tetapi juga makanan. Sama halnya dengan kesehatan, persoalan yang penting dari makanan saat ini adalah ketersediaan dan aksesibilitas.
Di Indonesia, kita bisa menjumpai perbedaan-perbedaan kontras antara yang terdampak secara ekonomi dan tidak terdampak secara ekonomi. Memilih makanan yang sehat, memasak di rumah, sampai mencoba resep-resep baru, sepertinya hanya berlaku bagi mereka yang tidak terlalu terdampak secara ekonomi. Cerita akan berbeda ketika kita menjumpai masyarakat yang terdampak secara ekonomi. Apalagi di tengah gelombang rasa keputusasaan ekonomi yang besar ditambah carut-marutnya penanganan pandemi. Dengan rendahnya daya ekonomi akan sedikit banyak berdampak pada preferensi makanannya.
Di lain sisi kita juga menjumpai Masyarakat Adat Kendeng yang memasok 30 ton beras untuk warga di DKI Jakarta[5] dan bagaimana sebagian kecil lahan stadion sepak bola dijadikan lahan produktif untuk menanam sayur di Sulawesi Selatan.[6]
Sampai tulisan ini juga ditulis, menurut data pemerintah, Sulawesi Selatan menjadi salah satu provinsi dengan jumlah pasien positif yang cukup banyak. Akan tetapi ada hal menarik yang bisa dilihat di Sulawesi Selatan saat ini.
***
Di Sulawesi Selatan terdapat konsepsi tentang makanan yang saya kira bagus untuk dikontekstualisasikan dalam kondisi pandemi saat ini. Konsepsi itu berasal dari tradisi Bugis, yang menempatkan makanan sebagai salah satu objek sentral.
Misalnya ketika pernikahan diselenggarakan, makanan menjadi elemen paling fundamental dari seluruh rangkaian prosesinya. Keberadaan makanan bisa sama pentingnya dengan akad nikah itu sendiri. Menu makanan yang akan dihidangkan kepada tamu dikoordinatori oleh seseorang yang disebut Jennang Botting.[7]
Makanan juga tidak hanya dihidangkan kepada manusia. Dalam hajatan lain makanan juga dihidangkan pada makhluk gaib,[8] yang salah satu tujuannya adalah untuk menangkal bencana atau tolak bala.[9] Tapi seiring berjalannya waktu tidak banyak lagi ritual seperti ini kita temukan. Selain itu kita juga belum bicara tentang pamali-pamali makanan yang hari ini masih sering kita jumpai.
Bagian dari rumah untuk memproses sebuah makanan juga tidak bisa dilepaskan. Semua aktivitas dan pencapaian keluarga dalam masyarakat Bugis, apa pun profesinya, ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang diwakili secara simbolis oleh dapur (dapûrêng). Dapur tidak hanya merupakan bagian rumah untuk memproses sebuah makanan, tetapi juga simbol kemakmuran dan inti dalam sebuah rumah tangga. Ketika keluarga akan pindah ke daerah lain, hal yang paling penting untuk dipertimbangkan adalah persoalan dapur[10]—kalau pindah ki ini, berasap ji dapur ta?
Dalam masyarakat Bugis, hirarki status sosial sangat begitu kental. Bahkan menjadi yang paling rumit dan tampak kaku diantara semua suku di Nusantara.[11] Hal ini bisa dilihat dari pernak-pernik pakaian, arsitektur rumah, sapaan nama, sampai gerak-gerik tubuh ketika berjalan dan duduk. Menariknya simbolitas status sosial masyarakat Bugis tidak ditemukan dalam makanan. Sebagaimana yang dikatakan Christian Pelras:
Pentingnya hirarki dalam masyarakat tradisional Bugis terlihat jelas dengan adanya sejumlah tanda-tanda dan simbol-simbol tertentu yang menunjukkan status mereka, sehingga orang lain bisa menentukan cara berperilaku yang tepat terhadapnya. Tanda ini mencakup pernak-pernik pakaian dan arsitektur rumah mereka. Sapaan penghormatan ditentukan secara saksama berdasarkan derajat kebangsawanan dan usia seseorang. Selain itu, ada pula gerak-gerik, posisi badan tertentu ketika duduk atau lewat di depan atau dekat seorang bangsawan, untuk menunjukkan rasa hormat. Perkawinan, di mana status dipertegas dan diwariskan secara turun temurun, tetap merupakan ajang utama bagi orang Bugis untuk menunjukkan status sosial mereka.[12]
Makanan memang merupakan objek yang sentral dalam masyarakat Bugis, tapi hal tersebut tidak serta merta membuat derajat makanan menjadi eksklusif dan hanya dapat diakses oleh segelintir orang.[13] Makanan yang enak (juga sehat) dalam masyarakat Bugis adalah makanan yang dihasilkan dari proses yang relatif sederhana, itu sudah termasuk air putih matang sebagai minumannya. Dan yang paling penting makanan itu mesti dapat diakses oleh semua orang tanpa memandang status ekonominya. Ketika suatu makanan tidak dapat diakses oleh banyak orang, terutama orang miskin, bukanlah makanan yang enak dan sehat.
—
[1] https://theconversation.com/apa-bedanya-pandemi-epidemi-dan-wabah-133491
[2] https://tirto.id/pandemi-covid-19-masak-dan-makan-di-rumah-pun-jadi-tren-e675
[3] https://www.nytimes.com/2020/04/11/business/coronavirus-destroying-food.html
[4] https://www.nytimes.com/2020/05/25/world/asia/china-coronavirus-chopsticks.html
[5] https://www.gatra.com/detail/news/479457/ekonomi/masyarakat-adat-kendeng-pasok-puluhan-ton-beras-ke-jakarta
[6] https://kumparan.com/kumparanbola/pengakuan-orang-yang-menanam-sayur-di-mattoangin-sudah-izin-kok-1tSraB7ZGG7/full
[7] Pernikahan dan Adaptasi Lokal, Hal. 73 — dalam Ismail Suwardi Wekke, dik. - Islam dan Adat, Keteguhan Adat dalam Kepatuhan Beragama
[8] Makanan, Hidangan, dan Masakan, Hal. 272 — dalam Christian Pelras - Manusia Bugis
[9] https://etnis.id/menggebah-wabah-dengan-songkabala-ala-suku-bugis-makassar/
[10] Mukrimin - "Moving the Kitchen out": Contemporary Bugis Migration. Southeast Asian Studies, Vol. 8, No. 3, December 2019, pp. 349-368
[11] Orang Bugis, Hal. 3 — dalam Christian Pelras - Manusia Bugis
[12] Tanda-Tanda Status, Hal. 196 — dalam Christian Pelras - Manusia Bugis
[13] Makanan, Hidangan, dan Masakan, Hal. 273 — dalam Christian Pelras - Manusia Bugis
Penulis: Rury Ramadhan (Karyawan Swasta)


Comments
Post a Comment