Belum Menjadi Manusia yang Seutuhnya Kalau Belum Makan Nasi
Pernyataan "tidak ada gunanya selera (makan) diperdebatkan" barangkali sudah biasa kita dengar. Apakah Anda juga? sama, saya juga. Saya juga termasuk yang tidak setuju memperdebatkan selera. Terutama berdebat untuk menentukan selera mana yang paling benar. Untuk persoalan selera makan, saya menganggap itu bersifat sosial bukan persoalan individual. Selera makan selalu terkondisikan oleh struktur sosial yang mengelilinginya.
Mungkin lebih menarik jika perdebatan itu diganti dengan perdiskusian duniawi. Misalnya dimulai dari pertanyaan, "apa yang memungkinkan kita mempunyai selera seperti ini?" atau misalnya juga lebih spesifik, "mengapa seseorang yang tidak bisa kalau tidak makan nasi?".
Apakah Anda juga? sama, saya juga. Saya belum menganggap diri saya 'sudah makan' kalau belum makan nasi.
![]() |
| Sumber Ilustrasi: cookpad.com |
Anggapan nasi sebagai makanan pokok sudah seperti takdir yang tidak bisa lawan. Sejauh pengalaman saya, anggapan itu hampir tidak pernah diproblematisir. Padahal ini bukan kondisi yang terjadi secara tiba-tiba.
Barangkali kita harus mempunyai semangat seperti Marvin Harris yang mengurai teka-teki kebudayaan di India tentang Sapi Suci dan para kelompok Pencinta & Pembenci Babi.
Alasan lain mengapa banyak adat dan pranata tampak misterius adalah karena kita telah diajari untuk menjunjung tinggi penjelasan "spritual" yang rumit atas fenomena kebudayaan, alih-alih penjelasan yang membumi [yang] terbangun dari soal perut, seks, energi angin, hujan, dan fenomena lain yang biasa dan teraba.(Marvin Harris)
***
Nasi. Pada mulanya ia disebut beras yang berasal tanaman pangan padi. Apabila nasi merupakan makanan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia, secara otomatis beras dianggap sebagai pangan utama. Terutama setelah Indonesia meraih swasembada beras pada tahun 1984 yang membuat paradigma ini semakin kokoh.
Meskipun begitu beras juga mempunyai peran besar dalam sejarah Indonesia di awal kemerdekaan (1946), dimana Indonesia memberikan bantuan beras 500.000 ton kepada India. Pada waktu itu beras memang merupakan komoditi yang banyak diperebutkan banyak negara di Asia pasca Perang Dunia ke II. Bantuan ini disampaikan secara langsung kepada rakyat tentang latar belakang, progres, dan makna bantuan oleh presiden Sukarno dalam pidatonya di HUT pertama Indonesia. Bantuan beras ini merupakan suntikan moral untuk menunjang perjuangan diplomasi Indonesia yang sedang buntu.
Selain itu yang paling penting untuk kita pahami bahwa tanaman pangan padi bukan merupakan tanaman pangan asli Indonesia. Padi merupakan tanaman pangan pendatang baru. Kesimpulan ini datang dari penelitian yang mengurutkan genom padi dari berbagai penjuru dunia. Kemungkinan di fase awal para pendatang memperkenalkan padi dengan teknik budidaya padi ladang dan kemudian teknik budidaya padi sawah pada fase selanjutnya. Tanaman pangan masyarakat penghuni pertama di Indonesia sebelum padi datang adalah umbi-umbian, pisang, dan juga sagu.
***
Dalam konteks Indonesia yang sangat beragam bentuk masyarakatnya, kita memang terlalu sangat mereduksi persoalan pangan hanya pada beras. Seperti saya yang sebelumnya memahami pangan hanya pada sektor pertanian, dan beras secara khusus. Yang saya pahami ketika bicara politik pangan ya kita bicara politik beras.
Politik pangan kita masih bersifat sektoral. Politik pangan kita masih berfokus pada satu sektor saja yakni sektor pertanian. Ini juga menjadi alasan mengapa Kementerian Pertanian begitu mendominasi dalam persoalan pangan. Ketersediaan pangan hanya berfokus pada beras dan ketersediaanya menjadi tolak ukur ketahanan pangan. Begitulah yang terjelaskan dalam diskusi zoom yang dilaksanakan oleh Indonesia Berseru tentang ekonomi-politik pangan (24/06/2020).
Dalam diskusi tersebut terdapat pernyataan dari narasumber bahwa kita telah lama terbelenggu dalam mitos tanah yang subur (seperti penggalan lirik lagu: tongkat kayu dan batu jadi tanaman). Padahal, menurutnya, Indonesia tidak subur-subur amat. Tanah yang subur untuk menanam padi cuma di Jawa dan sedikit di Sumatera & Sulawesi. Semakin ke arah timur hampir tidak bisa ditanami padi.
Ia mengatakan lebih lanjut kalau Indonesia itu "ditakdirkan" sebagai negara yang tidak bisa mencukupi kebutuhan pangannya sendiri (food deficit)—sejauh kita masih menjadikan padi sebagai tanaman pangan utama. Ditambah lagi Indonesia juga menghadapi permasalahan seperti semakin sedikitnya lahan tanah untuk digunakan menanam jenis-jenis tanaman pangan, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, sampai memberantas mafia-mafia pangan.
Sehingga diperlukan sebuah strategi.
***
Kita memang sudah harus segera lepas dari ketergantungan pada beras sebagai pangan utama. Dalam masa pandemi seperti sekarang ini bukan tidak mungkin Indonesia juga akan menghadapi krisis pangan, salah satunya beras.
Menurut peneliti INAgri (Institut Agroekonomi Indonesia) dalam situasi krisis ini setiap negara akan memikirkan dirinya masing-masing untuk mengamankan stok ketersediaan pangannya, sehingga kalau kekurangan maka siap-siap gigit jari.
Oleh karena masa pandemi ini bisa merupakan momentum yang tepat bagi strategi kebijakan pangan untuk semakin bertumpu pada keberagaman pangan lokal di Indonesia. Berdasarkan kondisi geografis dan kebudayaan Indonesia, strategi yang paling cocok memang membangun ketahanan pangan dari skala lokal. Dengan meningkatnya keberagaman pangan maka politik pangan kita tidak lagi melulu 'politik beras', dan yang paling penting kita juga dapat keluar dari cangkang mitos bahwa belum menjadi manusia seutuhnya kalau belum makan nasi.

Comments
Post a Comment