Melalui Evolusi Bullying Manusia, Saya Bersaksi Bahwa Substansi Jalangkote Adalah Penjualnya
Perilaku perundungan (bullying) merupakan perilaku yang sulit diukur karakteristiknya, tetapi kita semua tahu ketika melihatnya. Hal ini lantas menuntut kita semua untuk menentukan karakteristiknya, melacak asal-usulnya, dan menghapusnya dari bumi.
![]() |
| Sumber Ilustrasi: theconversation.com |
Sekilas tentang Evolusi Bullying
Dalam artikelnya The Origins of Bullying, Hogan Sherrow menyajikan beberapa kejadian di beberapa negara di dunia. Ia mengatakan bahwa perilaku bullying memiliki karakteristik; (1) mengganggu dan membahayakan orang lain; (2) terjadi berulang kali dari waktu ke waktu; (3) terdapat ketidakseimbangan kekuasaan antara yang-mem-bully dengan yang-di-bully. Bullying dilakukan dengan cara fisik (pemukulan), psikologis (pengucilan), dan verbal (ancaman).
Di Indonesia sendiri bullying kembali terjadi. Kali ini datang dari beberapa pemuda yang membully Rizal, penjual jalangkote yang masih berumur 12 tahun. Beberapa bulan lalu kita juga sempat dihebohkan oleh video anak yang menangis karena dibully di sekolahnya. Kejadianya dari negara Australia. Anak tersebut bakhan sampai menganggap jalan terbaik bagi hidupnya adalah mengakhirinya.
Semua kejadian bullying di dunia mengindikasikan bahwa ini merupakan perilaku yang universal dalam kehidupan manusia. Perilaku seperti itu dapat kita jumpai dalam semua kebudayaan, dan tidak mengenal suku, ras dan agama.
Sayangnya perilaku bullying masih dianggap berasal dari, seperti banyak pendapat umum yang saya jumpai, salah didik orang tua. Solusi-solusi yang ditemukan Hogan Sherrow dalam banyak kasus masih bersifat sementara, tidak menyelesaikannya sampai ke akar. Karena itu ia menganjurkan pemahaman terkait asal-usul bullying.
Hogan Sherrow menarik karakteristik bullying dan menemukannya dalam kehidupan hewan. Ia menarik 'penindasan' sebagai kata kunci dari bullying dan mengamatinya dalam sistem kehidupan tikus sampai hewan primata, seperti babun dan simpanse. Baginya ini membuka kemungkinan bagi kita semua bahwa bullying adalah perilaku yang telah mengakar dalam sejarah evolusi manusia dan bahkan telah ada sebelum manusia.
Manusia mewariskan perilaku ini dalam kehidupannya untuk memberikan keuntungan dalam kelangsungan hidup dan reproduksinya. Disini peran bahasa sangat signifikan bagi spesies manusia. Dengan bahasa, manusia mengembangkan dan memperluas dampak intimidasi melalui kebudayaan sampai ruang-ruang virtual. Sekaligus membawanya dari keuntungan menjadi racun sosial. Tidak hanya dilakukan oleh individu pada individu, tetapi juga dapat dilakukan oleh institusi terlembaga pada individu.
Karena itu bagi Hogan Sherrow hanya dengan pemahaman dasar tentang perilaku, khususnya bullying, kita dapat menempatkan racun sosial ini ke dalam strategi penyelesaiannya.
Seperti Ada Kesalahan Evolusi Bagi Mereka yang Membully Penjual Jalangkote
Dari beberapa informasi yang beredar, Rizal berjualan jalangkote untuk membantu perekonomian orang tuanya. Terutama untuk membeli popok adiknya yang baru saja lahir. Hal tersebut membuat saya harus berpikir kalau terdapat kesalahan dalam proses evolusi pelaku pembully.
Sejauh pengalaman saya dengan jalangkote, saya belum pernah sama sekali menemukan unsur-unsur dari jalangkote yang membuat saya sampai harus kehilangan pikiran dan rasa kemanusiaan.
Unsur pertama, namanya. Jalangkote memiliki keunikan tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (SulSelBar). Di luar “komunitas bahasa” ini jalangkote dikenal dengan nama kalau bukan pastel, ya gorengan. Namanya juga dijadikan parodi oleh beberapa selebgram di SulSelBar. Karenanya jalangkote dapat menjadi hiburan bagi yang menontonnya. Meskipun sudah dinonton berkali-berkali, Anda mungkin masih bisa tersenyum-senyum.
Unsur kedua, bentuknya. Ini merupakan pengalaman langsung, ketika saya dan beberapa teman berada di salah satu rumah sakit tentara untuk disunat. Sebelum prosesi itu dimulai dokternya mendatangi kami di ruang tunggu dan bertanya: “Jadi siap mko semua ini? Kasi model jalangkote mi jahitannya nah”. Saat itu saya tidak tahu mau ketawa atau takut.
Unsur ketiga, keberadaanya. Diantara teman-temannya seperti lumpia, bakwan, kroket atau pun risoles (bukan filsuf), jalangkote adalah gorengan paling menonjol. Hal ini karena jalangkote lah yang paling banyak diperdagangkan keliling, terutama oleh anak-anak. Irama nada teriakkannya sangat khas di telinga kita.
Dan yang terakhir, penjualnya. Ketika saya SD, selepas sholat ashar merupakan waktu yang tepat untuk bermain dan mengekpresikan diri. Termasuk waktu yang tepat untuk Sadar berjualan. Sadar adalah nama penjual jalangkote yang biasanya keliling di dalam kompleks. Ia juga berjualan untuk membantu perekonomian keluarganya. Saat itu kira-kira umurnya 8 atau 9 tahun. Kami akan ikut senang ketika dia juga ikut bermain. Mulai dari main gebo’, cangke’, tamiya, sampai yang paling seru: sepak bola.
Ketika kami bermain bola, pihak yang kalah akan membayar uang ke pihak yang menang (nominalnya akan disesuaikan pada sisa uang jajan sekolah). Pihak yang menang akan membeli minuman ringan dan jalangkotenya Sadar. Kita semua menikmati, tak terkecuali Sadar. Ia dapat memakan jalangkotenya sendiri tanpa harus rugi.
| Tempat Kejadian Perkara |
Karena itu jika ditanya apanya jalangkote sehingga jalangkote itu dapat dikatakan sebagai jalangkote, saya akan jawab: penjualnya. Bagaimana tidak, ketiga unsur yang disebutkan diatas tidak akan menjadi menarik kalau tidak dipopulerkan oleh penjualnya. Terutama yang penjualnya masih anak-anak seperti Sadar. Maka izinkan lah saya bersaksi bahwa substansi jalangkote adalah penjualnya.
—
Penulis: Rury Ramadhan (Karyawan Swasta)

Comments
Post a Comment