Makanan; Bukan Cuma Mengenyangkan, Menyenangkan, dan Setelahnya
Sebulan yang lalu ketika tanggal gajian tiba, saya menyempatkan berkunjung ke toko buku yang lokasinya cukup tersembunyi karena berada di lorong-lorong kecil. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari kantor.
Berkunjung ke toko buku merupakan salah satu aktivitas yang saya lakukan untuk melepas penat dari ketidakadilan kehidupan. Meskipun itu hanya sekedar untuk melihat-lihat saja.
Pada saat tiba di sana saya langsung menyandarkan pantat di kursi yang posisinya dikelilingi oleh rak buku. Penat yang ada di pikiran perlahan-lahan layu dan peredaran darah perlahan-lahan menjadi lancar.
Beberapa menit melihat-melihat, perhatian saya kemudian tertuju pada salah satu buku. Di sampul depannya tertulis: Berebut Makan dengan huruf besar berwarna kuning. Buku yang ditulis oleh Paul McMahon ini sebenarnya sudah tidak asing, karena seringkali muncul sebagai referensi cerita oleh beberapa kawan ketika kami sedang gosip.
Saya melanjutkan melihat-lihat ke kiri kanan atas bawah. Saya mendapati buku Sejarah Rempah karya Jack Turner tepat di sudut rak terbawah. Entah kenapa seperti ada perempuan cantik yang menatap dari jauh dan saya harus membalasnya. Kebetulan sekali juga desain sampul bukunya terdapat gambar ilustrasi perempuan yang tidak memakai pakaian. Saya kemudian mengambil dan membaca sinopsis yang ada di sampul belakangnya.
Tidak butuh waktu lama, transaksi jual-beli pun terjadi.
Ketika di perjalanan pulang saya baru menyadari bahwa dua buku yang saya beli barusan adalah buku yang semuanya tentang makanan. Saya menjadi mengira-ngira kalau ini mungkin efek dari besarnya pengaruh lingkungan. Khususnya lingkungan kantor tempat saya bekerja, sebuah perusahaan start-up berinisial G yang berhubungan dengan makanan (juga minuman).
***
Hingga hari ini, di sela-sela waktu kerja, saya masih menyempatkan untuk membaca kedua buku tersebut. Hal ini sedikit membuahkan hasil. Saya menjadi menyadari kompleksitas dimensi yang dimiliki makanan dalam masyarakat-manusia. Seperti sosial-politik, sosial-ekonomi, medis, dan ataupun mistis.
Mungkin dimensi mistis makanan adalah dimensi yang unik sekaligus membuat minder para juri Master Chef dan ahli gastronomi. Salah satu contoh kasus dimana celana dalam yang dicampur dengan kuah bakso.
Meskipun begitu tidak dapat dipungkiri kalau berbagai dimensi yang ada pada makanan berdiri di atas sebuah fakta yang tidak pernah berubah sepanjang sejarah manusia: agar manusia dapat hidup dan menjalaninya, pertama-tama ia harus makan.
Makanan yang dimakan adalah sesuatu yang menghasilkan kalori yang terdapat pada karbohidrat, protein, lemak, dan mikro nutrien. Paul McMahon secara eksplisit menyebutkan bahwa kalori merupakan alas makanan manusia dan penanda utama dari semua jenis bahan pangan. Sehingga pangan menjadi sesuatu yang primer untuk dimakan manusia.
Apabila pangan merupakan sesuatu yang primer, terdapat juga sesuatu yang sekunder yaitu rempah-rempah. Dalam konteks nutrisi rempah-rempah tidak memiliki peran penting sebagaimana pangan yang menghasilkan kalori. Tapi rempah-rempah dapat menjadi pelengkap cita rasa olahan pangan menjadi makanan. Menurut Jack Turner rempah-rempah memiliki banyak cerita yang menarik dalam sejarah manusia dan makananya.
Dari buku Paul McMahon saya memahami bahwa persoalan mendasar makanan adalah tentang keadilan, kelimpahan, dan keberlanjutan. Apalagi di tengah lonjakan populasi dunia dan perubahan iklim. Kelangkaan pangan membuat gejolak pada level global sehingga kita menjadi khawatir datangnya “kiamat pangan”. Konsep Paul McMahon tentang feeding frenzy mengatakan bahwa bukan hanya negara maju dan pemodal sebagai penyebab utama dari gejolak sistem pangan global. Negara berkembang pun bisa turut menjadi penyebab.
Sedangkan dari buku Jack Turner saya memiliki pandangan yang berbeda terhadap rempah-rempah yang ada di dapur rumah. Penjelasannya tentang rempah lebih menekankan aspek maknawi dalam perspektif masyarakat Eropa. Baginya aspek maknawi dari rempah itu tenggelam oleh sejarah rempah dalam dimensi ekonomi dan politik yang rumit. Dalam bayangan masyarakat Eropa di Abad Pertengahan, tidak pernah dan mungkin tidak akan ada lagi sesuatu yang menyerupai rempah-rempah. Bahkan wilayah atau tempat dimana rempah-rempah berada lebih seperti mitos ketimbang realitas. Masyarakat Eropa berusaha mendatanginya, yang pada akhirnya berujung impresialisme.
***
Kompleksitas dimensi yang dimiliki makanan juga berkelindan dengan strata sosial masyarakat. Apa yang kita makan juga menentukan status dan posisi sosial. Untuk urusan ini kita mungkin dapat membahasnya melalui etos kuliner.
Apabila kuliner merupakan persiapan makanan oleh manusia dan membuat makanan menjadi memiliki spektrum pilihan yang luas tentang konsep baik-buruk, maka etos kuliner meruapakan penetapan sudut pandang yang oleh karenanya kita menilai sesuatu sebagai “makanan” dan bagaimana itu dikonsumsi. Setiap etos kuliner dapat ditetapkan atau disetujui oleh pemerintah, otoritas militer, otoritas agama, dan masyarakat sipil.
Selain itu juga yang perlu dipahami dari makanan—saya kira ini yang paling penting—adalah rantai produksinya sebelum kita memakan apa yang kita makan. Mulai dari produksi, distribusi, dan sirkulasi (permintaan dan penawaran).
***
Sampai disini saya berkesimpulan kalau manusia dan makanannya adalah persoalan yang sangat kompleks. Bukan hanya persoalan mengenyangkan atau menyenangkan saja, apalagi kalau hanya sebatas makan terus berak.
—
Penulis: Rury Ramadhan (Karyawan Swasta)
Comments
Post a Comment