Gara-Gara Nasi Goreng
Saya makan nasi goreng gara-gara cerpen. Bukan gara-gara lapar.
Suatu hari di tahun 2018, sepulang melengkapi berkas CPNS agar ibu di kampung senang, saya singgah makan nasi berlauk jagung jam 6 sore di bilangan Pintu Nol Unhas.
Harusnya saya sudah kenyang. Jagung di warung Daeng Ranni, rasanya beda dari tempat lain. Ada asin nyaris pedis, tapi juga segar karena pakai jeruk purut. Warnanya kuning. Kokoh. Lebat rambutnya. Bijinya renyah. Uhh. Saya melahap hampir dua buah jagung berukuran sekitar 20 cm tanpa jeda. Saya kemudian minum lebih kurang 1 liter air. Lambung sudah hampir penuh. Saya pun pulang dengan perut sedikit buncit.
Setiba di indekos, ada tetangga kamar saya duduk santai di balkon. Saya menghampirinya. Ia menyodorkan buku kumpulan cerpen pada saya. "Bacaki ini cerpen. Baguski" katanya. Saya melihat-lihat sampul dan daftar isinya. Judulnya Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, penulisnya Puthut EA. Saya lalu berterima kasih. Buku sejak mula jadi jembatan kami berkomunikasi. Kami cukup akrab. Sayangnya dia lelaki.
Rokok saya habis. Membaca tanpa merokok bukan style saya. Tapi saya malas keluar cari rokok. Kekenyangan membuat saya tak banyak bisa bergerak. Saya memutuskan minta pada anaknya ibu kos. Syukur dia bukan seorang rokok snob yang biasanya mengumpat "merokok kok modal korek" atau "merokok kok sampoerna, surya dong, atau jisamsu".
Rokok sudah ditangan. Halaman demi halaman buku saya buka pelan-pelan. Nah. Barangkali ini konspirasi alam semesta, tapi mungkin juga tidak. Entah mengapa, saya berhenti membolak-balik kertas dan memutuskan membaca cerpen Puthut EA bertitel: Koh Su, kebetulan di situ ada pembatas bacaan tetangga saya. Saya pun mulai membacanya.
Puthut sungguh piawai merancang teknik bercerita. Koh Su mengisahkan penjual nasi goreng legendaris. Kata seorang tokoh dalam cerpen itu, mencicipi nasi goreng ala Koh Su serasa hanya berjarak seiprit dari surga. Anjrit, batin saya. Saya pikir itu berlebihan.
Tapi jadi tidak berlebihan, tatkala nasi goreng ala Koh Su dalam hikayatnya, dikisahkan memakai nasi khusus dari lereng gunung di Jawa. Koh Su tak pernah pakai bumbu macam-macam. Ia tak mencampur nasi pakai saus tomat atau kecap. "Ia hanya sibuk memasak. Ia tidak melayani pesanan yang neko-neko. Di resep Koh Su, nasi goreng adalah nasi goreng. Ia tidak pernah meluluskan permintaan nasi goreng pedas, nasi goreng tidak asin, tidak pakai telor atau daging, dan lain-lain. Semua seragam, sama. Anehnya, sekalipun seragam, Koh Su selalu memasak satu per satu masakannya. Orang-orang rela mengantri berpuluh-puluh menit demi mencicipi nasi goreng Koh Su. Dan ketika selesai menyantap sepiring nasi goreng, rasanya seperti setelah menunaikan ibadah.
Nasi goreng Koh Su betul-betul diolah secara paripurna. "Sempurna. Warnanya begitu menyentuh. Semua nasi berwarna sama, tercampur bumbu dan matang dengan rata. Baunya juga sempurna.”
Saya terharu, terbawa hanyut dalam imaji lirisnya cerita Puthut EA. Beberapa kali saya meneguk liur. Sammbala'. Saya tenggelam dalam semesta narasi sebuah cerpen yang luar biasa itu. Saya langsung bergegas, bersiap-siap keluar mencari warung nasi goreng setelah tiba di kalimat terakhir cerita.
"Cari nasi goreng deh" timpal tetangga kamar ketika saya baru saja membuka pintu kamar. Sial, ini hanya akal-akalan semata, ternyata. Ia minta ditraktir nasi goreng. Dompetnya lagi berada dalam kondisi ringan-ringannya, ujarnya. Kiriman dari orang tuanya terlambat karena sesuatu yang tak bisa saya tuliskan disini. Akhirnya kami menuju warung nasi goreng di perempatan jalan Perintis Kemerdekaan VIII. Saya makan lagi malam itu. Dan bukan gara-gara lapar perut. Lapar dalam pikiran, ternyata, lebih susah dibendung godaanya.
—
Penulis: Mario Hikmat (Tenaga Kesehatan)
Tulisan ini sudah pernah terbit di akun Facebook penulis, dan diterbitkan kembali dengan revisi minor.

Comments
Post a Comment