Diam-Diam Mengamati Meja Makan; Tata Letak Makanan, Kategori Makanan, dan Apa yang Layak Dimakan
Sedikit lagi waktu berbuka puasa, ibu baru pulang dari pasar. Seperti kesibukan menjelang waktu berbuka di hari-hari sebelumnya ibu selalu sibuk menyediakan beragam jenis makanan ringan dan berat untuk merayakan puasa hari ini.
Ibu menatanya dengan rapi, makanan dengan kategori ringan selalu ditempatkan tepat di sudut kiri bawah meja makan persegi panjang yang menyandar di dinding ruang tengah. Lumpia, kroket, dan jalangkote disajikan di atas piring kaca bersebelahan dengan saus sambal rasa pedis, asam dan manis yang ditempatkan dalam wadah gelas kecil.
Di sudut kanan meja ada wadah besar berisikan air putih (baca: air mineral) dan es buah dalam gelas-gelas yang tersusun rapi lengkap dengan sendoknya. Lalu di tengah-tengah meja makan ada makanan berat seperti nasi sebakul beserta lauk-pauk yang tentunya saya sangat akrab dengan mereka, ada tempe dan tahu goreng, telur ceplok, ikan bandeng goreng yang dipotong dengan ukuran dua ruas jari orang dewasa, serta sayur-mayur.
Selain itu hari ini tampaknya ada menu baru yang mengisi meja makan, yaitu puding. Walaupun puding dalam sebuah kotak plastik itu sangat asing bagi ku pada saat berbuka, namun menu itu spesial hari ini karena dibawa oleh tamu kami dari kota.
Tibalah waktu berbuka. Diantara semua makanan yang ada di atas meja makan, sepuluh menit pertama jalangkote selalu habis terlebih dahulu sebelum semua tangan berpindah menjajal makanan ringan lainnya. Bagaimana dengan puding? tidak ada yang menyantapnya bahkan tamu itu sendiri lebih memilih jalangkote. Alasannya sederhana, jalangkote adalah takjil yang tepat karena lebih familiar untuk waktu berbuka. Sedangkan untuk yang terakhir terjamah adalah nasi berserta lauk-pauknya, yang dimakan setelah melaksanakan ibadah sholat maghrib. Itupun hanya dengan porsi secukupnya sehingga separuh dari kuantitas makanan yang tersisa kembali disajikan saat sahur tiba.
***
Dalam praktek berbuka seperti diatas, kebiasaan memilih untuk mengkonsumsi makanan ringan menjadi opsi yang banyak dipilih ketimbang makanan berat. Pertimbangan umumnya bahwa makanan ringan tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi sementara sebelum melakukan ibadah sholat maghrib. Sedangkan puding, bagi tamu tadi, bukanlah pilihan yang ideal untuk berbuka puasa karena jalangkote lebih familiar di waktu berbuka puasa. Jalangkote dan kawanannya yang ada di atas meja makan tadi begitu identik dengan waktu berbuka puasa. Meskipun pada kenyataannya puding memiliki lebih banyak kandungan gula yang dibutuhkan tubuh untuk menggantikan cadangan gula darah setelah seharian menahan lapar dan haus. Semua pemilihan-pemilihan makanan terjadi mungkin bukan hanya di satu meja makan saja tetapi juga dikebanyakan meja lainnya.
Dalam Foster dan Anderson (1989) apa yang disebut sebagai makanan (food) bukan sekedar nutrimen (nutriment) atau konsep biokimia tentang suatu zat yang mampu memelihara dan menjaga kesehatan bagi organisme yang menelannya. Tetapi makanan (food) merupakan suatu konsep budaya (culture) dengan pernyataan "inilah makanan" atau "zat dalam makanan ini sesuai dengan kebutuhan gizi kita".
Setiap kelompok juga mengklasifikasikan makanan mereka berdasarkan apa yang layak dikonsumsi, terdiri dari apa, waktu-waktu resmi, makanan ringan diantara waktu makan, etika makan penataan makanan di atas meja makan yang dilakukan berdasarkan pemikiran status dan prestise, pertemuan sosial, usia, keadaan sakit dan sehat, dan nilai-nilai simbolik dan ritual.
![]() |
| Sumber Ilustrasi: Internet |
Kebiasaan memilih makanan dalam kelompok masyarakat dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, karena makanan memerlukan pengesahan budaya. Meskipun pada kenyataannya selalu ada pemilihan makanan baru oleh individu-individu di luar dari kebiasaan kelompoknya yang karenanya mempengaruhi jumlah variasi makanan.
Sehingga diantara banyaknya ragam jenis makanan yang tersedia di atas meja makan maupun di sekeliling kita, hanya beberapa diantaranya yang dikonsumsi berdasarkan aturan yang berlaku.
Pinrang, 20 Mei 2020
—
Penulis: Ahmad Muzakkir (Mahasiswa Antropologi Unhas)

Comments
Post a Comment